Latest Games :
Home » » FILSAFAT PERIODE PERTENGAHAN

FILSAFAT PERIODE PERTENGAHAN

Sabtu, 23 Juni 2012 | 0 komentar


BAB I
PENDAHULUAN



A.    Latar Belakang
            Dalam sejarah filsafat ada saat-saat yang dianggap penting sebagai patokan suatu era (zaman),karena selain memiliki zaman atau khas, yaitu suatu aliran filsafat bisa meniggalkan pengaruh yang sangat bersejarah pada peradaban manusia. Pada awal abad ke-6 filsafat berhenti untuk waktu yang lama. Segala perkembangan ilmu pada waktu itu terhambat. Hal ini disebabkan karena abad ke-6 dan ke-7 adalah abad-abad yang kacau. Karena pada waktu itu adanya perpindahan bangsa-bangsa yang masih belum beradab terhadap Kerajaan Romawi, sampai kerajaan tersebut runtuh. Bersama kerajaan itu runtuh, runtuh pula lah peradaban Romawi, baik itu yang bukan Umat Kristiani maupun peradaban Kristiani yang dibangun pada abad ke-5 terakhir. Pada perkembangan peradaban yang kacau ini, mungkin ada yang berkembang pada peradaban yang baru di bawah pemerintahan Karel Agung (742 - 814), yang memerintah pada awal abad pertengahan, di Eropa mungkin ada ketenangan di bidang politik. Pada waktu itulah kebudayaan mulai bangkit, dan bangkitlah ilmu pengetahuan dan kesenian. Filsafat juga mulai diperhatikan.
            Filsafat abad pertengahan adalah suatu arah pemikiran yang berbeda sekali dengan pemikiran dunia kuno. Filsafat abad pertengahan menggambarkan suatu zaman yang baru di tengah-tengah suatu perkumpulan bangsa yang baru, yaitu bangsa Eropa Barat. Filsafat yang baru ini disebut skolastik. Abad pertengahan selalu dibahas sebagai zaman yang khas akan pemikiran Eropa yang berkembang pada abad tersebut, dan menjadikan suatu kendala yang disesuaikan dengan ajaran agama. Dalam agama Kristen, pada abad pertengahan, tentu saja ada kecerdasan logis yang mendukung iman religius. Namun iman sama sekali tidak disamakan dengan mistisisme.        





B.     Rumusan Masalah
1.Apa yang dimaksud dengan periode scholastik?
2.Bagaimana perkembangan filsafat pada saat periode Skolastik Islam?
3. Bagaimana perkembangan filsafat pada saat periode skolastik Kristen?

      C.  Tujuan
1. Untuk memenuhi tugas Filsafat Sosial
2.Untuk mahasiswa memahami bagaimana perkembangan filsafat pada periode pertengahan

























BAB II
PEMBAHASAN

Filsafat Yunani telah mencapai kejayaannya sehingga melahirkan peradaban Yunani dan menjadikan titik tolak peradaban manusia di dunia. Filsafat Yunani telah menyebar dan mempengaruhi berbagai bangsa diantaranya adalah bangsa Romawi, Karena Romawi merupakan kerajaan terbesar di daratan Eropa pada waktu itu. Bangsa Romawi yang semula beragama Kristen dan kemudian kemasukan filsafat merupakan suatu formulasi baru yaitu agama berintegrasi dengan filsafat, sehingga muncullah filsafat Eropa yang tak lain penjelmaan dari filsafat Yunani.
Semenjak meninggalnya  Aristoteles, filsafat terus berkembang dan mendapat kedudukan yang tetap penting dalam kehidupan pemikiran manusia meskipun dengan corak dan titik tekan yang berbeda. Periode sejak meninggalnya Aristoteles (atau sesudah meniggalnya Alexander Agung (323 SM) sampai menjelang lahirnya Agama Kristen oleh Droysen disebut periode Helenistik[1]. Dalam masa ini Filsafat ditandai antara lain dengan perhatian pada hal yang lebih aplikatif, serta kurang memperhatikan metafisika, dengan semangat yang elektrik (mensintesiskan pendapat yang berlawanan) dan bercorak mistik.
Menurut Epping, ciri manusia (pemikiran filsafat) abad pertengahan[2] adalah: (1) Ciri berfilsafatnya dipimpin oleh gereja, (2) Berfilsafat didalam lingkungan ajaran Aristoteles, (3) Berfilsafat dengan pertolongan Augustinus. Pada masa ini filsafat cenderung kehilangan otonominya, pemikiran filsafat abad pertengahan bercirikan Teosentris, hal ini tidak mengeherankan mengingat pada masa ini pengaruh Agama Kristen sangat besar dalam kehidupan manusia termasuk dalam bidang pemikiran.
Filsafat Yunani telah mencapai kejayaannya sehingga melahirkan peradaban Yunani dan menjadikan titik tolak peradaban manusia di dunia. Filsafat Yunani telah menyebar dan mempengaruhi berbagai bangsa diantaranya adalah bangsa Romawi, Karena Romawi merupakan kerajaan terbesar di daratan Eropa pada waktu itu. Bangsa Romawi yang semula beragama Kristen dan kemudian kemasukan filsafat merupakan suatu formulasi baru yaitu agama berintegrasi dengan filsafat, sehingga muncullah filsafat Eropa yang tak lain penjelmaan dari filsafat Yunani.
            Filsafat barat abad pertengahan (476-1492 M) bisa dikatakan The Dark Angel atau abad kegelapan. Argumentasi dari pandangan yang ekstrim ini didasari dengan menitikberatkan pandangan pada akibat tindakan gereja yang membelenggu hidup dan kehidupan manusia. Sehingga dengan demikian manusia tidak memiliki kebebasan untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya. Sehingga ilmu pengetahuan terhambat dan tidak bisa berkembang, karena semuanya diatur oleh doktrin-doktrin gereja yang berdasarkan keyakinan. Apabila terdapat pemikiran – pemikiran yang bertentangan dari keyakinan para gerejawan, maka filosof tersebut dianggap murtad dan dihukum berat sampai pada hukuman mati.
            Filsafat abad pertengahan sering disebut filsafat scholastik, yakni filsafat yang mempunyai corak semata-mata bersifat keagamaan, dan mengabdi pada teologi. Pada masa ini memang terdapat upaya – upaya para filusuf untuk memadukan antara pemikiran Rasional dengan wahyu Tuhan sehingga dapat dipandang sebagai sintesa antara kepercayaan dan akal. Keadaan ini pun terjadi dikalangan umat Islam yang mencoba melihat ajaran islam dengan sudut pandang Filsafat (rasional), hal ini dimungkinkan mengingat begitu kuatnya pengaruh pemikiran – pemikiran ahli filsafat Yunani/hellenisme dalam dunia pemikiran saat itu,sehingga keyakinan agama perlu dicarikan landasan filosofisnya agar menjadi suatu keyakinan yang rasional.
Sebutan skolastik juga mengungkapkan, bahwa ilmu pengetahuan abad pertengahan yang diusahakan oleh pengajaran sekolah-sekolah, dan ilmu tersebut terikat pada tuntutan pengajaran di sekolah- sekolah itu. Semula skolastik timbul di biara-biara tertua di Gallia selatan, tempat pengungsian  ketika ada perpindahan bangsa-bangsa. Sebab di situlah tersimpan hasil-hasil karya para tokoh kuna dan para penulis kristiani. Dari biara-biara di Gallia selatan itu kemudian skolastik timbul di sekolah-sekolah kapittel, yaitu sekolah-sekolah yang dikaitkan dengan gereja. Sifat filsafat skolastik adalah  pengetahuan yang digali dari buku-buku diberi tekanan berat. Jagad raya memang di pelajari, akan tetapi bukan dengan penelitian-nya, melainkan dengan menanyakan kepada pendapat para filsuf yunani tentang jagad raya itu. Ada yang mengatakan juga bahwa skolastik itu filsafat yang berdasarkan atas agama atau kepercayaan.
Pemikiran – pemikiran yang mencoba melihat agama dari perspektif filosofis terjadi baik di dunia Islam maupun Kristen, sehingga para ahli mengelompokkan filsafat scholastik kedalam 2 periode yaitu periode skolastik Islam (abad 8 - 12 M) dan periode skolastik Kristen (abad 12 - 15 M).
Di dunia Islam lahir filusuf – filusuf terkenal seperti Al Ghazali(1050-1111 M),Al Kindi(801-865 M), Al Farabi(870-950 M), Ibnu Miskawih (932 – 1020 M), Ibnu Sina(980-1037 M), Ibnu Rusyd(1126-1198 M ), Suhrawardi (1158–1191 M), Ibnu Khaldun (1332 – 1406 M) . Sementara itu di dunia Kristen lahir filsuf – filsuf seperti Plotinus(204-207 M), Augustinus(354-430 M), Anselmus(1033-1109 M), Peter Abelardus(1079-1180 M), dan Tomas Aquinas(1225-1274 M). Mereka ini disamping sebagai filsuf juga orang – orang yang mendalami ajaran agamanya masing – masing, sehingga corak pemikirannya mengacu pada upaya mempertahankan keyakinan agama mereka dengan jalan filosofis, meskipun dalam banyak hal terkadang ajaran agama dijadikan hakim untuk memfonis benar atau tidaknya suatu hasil pemikiran filsafat (pemikiran rasional).

  1. Paraskolastik Islam
Paraskolastik Islamlah yang pertama yang mengenalkan filsafatnya Aristoteles diantaranya adalah Ibnu Rusyd, ia mengenalkan kepada orang – orang barat yang belum mengenal filsafat Aristoteles.
Para ahli fikir Islam (Skolastik Islam) yaitu Al Kindi, Al Farabi, Ibnu Sina, Al Ghazali, Ibnu Rusyd, dan lain – lain. Mereka itulah yang memberi sumbangan sangat besar bagi para filosof Eropa yang mengangggap bahwa filsafat Aristoteles, Plato, dan Al – Qur’an adalah benar. Namun dalam kenyataanya bangsa Eropa tidak mengakui atas peranan ahli fikir Islam yang mengantarkan kemoderenan bangsa barat.
            A.1 Filsafat Islam Di dunia Islam Timur
                        1. Al Ghazali / 1050 – 1111 M ( Tahafutut Al Falasifah)
            Nama aslinya Abu Hamid Muhammad Ibn Muhammad Ibn Muhammad al Ghazali. Al Ghazali merupakan Seorang filosof dan teolog Muslim Persia, yang dikenal sebagai Al Ghazel  di dunia barat abad pertengahan.
Pemikiran Al Ghazali mengenai pendidikan adalah proses memanusiakan manusia sejak kejadiannya sampai akhir hayatnya melalui berbagai ilmu pengetahuan yang disampaikan dalam bentuk pengajaran secara bertahap, dimana proses pengajaran tersebut menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat menuju pendekatan diri kepada Allah, sehingga menjadi manusia yang sempurna. Batas awal berlangsungnya pendidikan menurutnya adalah sejak bersatunya ovum dan sel sperma sebagai awal kejadian manusia. Sedangkan batas akhir pendidikan itu orang yang berilmu dan orang yang menuntut ilmu berserikat pada kebajikan dan manusia lain adalah bodoh dan tak bermoral.    
Pokok Pemikiran dari  Al Ghazali adalah tentang  Tahafutut Al Falasifah (kerancuan berfilsafat) dimana Al Ghazali menyerang para filososf – filosof Islam berkenaan dengan kerancuan berpikir mereka. Tiga diantaranya, menutur Al Ghazali menyebabkan mereka telah kufur, yaitu tentang  Qodimnya alam, pengetahuan Tuhan dan kebangkitan jasmani.

2. Suhrawardi / 1158 – 1191 M (Isyraqiyah atau illuminatif)
            Pokok pemikiran Suhrawarti adalah tentang teori emanasi, ia berpendapat bahwa sumber dari segala sesuatu adalah nuur an-nuur (al - haq) yaitu Tuhan itu sendiri. Yang kemudian memancar menjadiu nuur al – awwal, kemudian memancar lagi menjadi nuur kedua, dan seterusnya hingga yang paling bawah (nur yang semakin tipis) memancar menjadi alam (karena semakin gelap suatu benda maka ia semakin padat).
            Pendapatnya yang kedua adalah bahwa sumber dari ilmu dan atau kebenaran adalah Allah, alam dan wahyu bisa dijadikan sebagai perantara (ilmu) oleh manusia untuk mengetahui keberadaan Allah. Sehingga keduanya antara, alam dan wahyu adalah sama – sama sebagai ilmu.

3. Ibnu Khaldun (1332 – 1406 M)
            Abdurrahman Abu Zain Wakiuddin Ibn Khaldun Al Maliki
 (1332 – 1406 M), lahir di Tunisia, adalah sosok pemikir Muslim legendaris. Khaldun membuat karya tentang  pola sejarah dalam bukunya yang terkenal yaitu muqaddimah, yang dilengkapi dengan Kitab Al - I’bar yang berisi hasil penelitian mengenal sejarah bangsa Berber di Afrika Utara. Dalam muqaddimah itulah Ibnu Khaldun membahas tentang filsafat sejarah dan soal – soal prinsip mengenai timbul dan runtuhnya negara dan bangsa – bangsa.
Dalam mempertautkan sejarah dengan filsafat, Ibnu Khaldun tampaknya ingin mengatakan sejarah memberikan kekuatan intuisi dan inspirasi kepada filsafat, sedangkan filsafat manawarkan kekuatan logika kepada sejarah. Dengan begitu, seorang sejarawan akan mampu memperoleh hasil yang relatif valid dari proses penelitian sejarahnya, dengan dasar logika kritis.
Dasar sejarah filsafatnya adalah :
1.)    Hukum sebab akibat yang menyatakan bahwa semua peristiwa, termasuk peristiwa sejarah, berkaitan satu sama lain berkaitan satu sama lain dalam suatu rangkaian hubungan sebab akibat.
2.)    Bahwa kebenaran bukti sejarah tidak hanya tergantung kepada kejujuran pembawa cerita saja akan tetapi juga kepada tabiat zaman. Karena hal ini para cendekiawan memberinya gelar dan titel berdasarkan tugas dan karyanya serta keaktifannya dibidang ilmiah yaitu sarjana dan filosof besar, ulama Islam, sosiolog, pedagang, ahli sejarah, ahli hukum, politikus, sastrwan arab, administrator dan organisator.

4. Al - Kindi (806 – 873 M)
Al Kindi nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Ya’qub Ibn Ishaq Ibn Sabbah Ibn Imron Ibn Ismail Al – Ash’Ats Bin Qais Al Kindi. Ia seorang filosof  Muslim yang pertama. Kindah adalah salah satu Suku Arab yang besar pra – Islam. Kakeknya Al – Ash’Ats Ibn Qais, memeluk Islam dan dianggap sebagai salah seorang sahabat nabi SAW. Al – Ash’Ats bersama beberapa perintis muslim pergi ke Kufah, tempat ia dan keturunannya mukim. Ayahnya adalah Ishaq Al – Sabbah menjadi gubernur Kufah selama kekhalifahan Abbasiyah Al Mahdi dan Al Basyid. Kemungkinan besar Al Kindi lahir pada tahun 185 H / 801 M. Ia dilahirkan di tengah – tengah keluarga berderajat tinggi, kaya akan kebudayaan dan terhormat.
            Menurut Al Kindi filsafat hendaknya diterima sebagai bagiaan dari kebudayaan Islam, Oleh karena itu para sejarawan Arab awal menyebutnya “filosof Arab”. Menurutnya batasan filsafat yang ia tuangkan dalam risalahnya tentang filsafat awal adalah“ filsafat” adalah pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu dalam batas – batas kemampuan manusia, karena tujuan para filosof dalam berteori ialah mencapai kebenaran dan dalam prakteknya ialah menyesuaikan dengan kebenaran.
            Pemikiran filsafatnya berkisar tentang masalah Relevansi agama dan filsafat, fisika dan metafisika (hakikat Tuhan bukti, adanya Tuhan dan sifat – sifatnya), Roh (jiwa), dan kenabian.

5. Abu Bakar Ar Razi (865 – 925 M)
            Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad Ibn Zakaria Ibn Yahya Ar – Razi dibarat dikenal dengan Razes. Ia lahir di Ray dekat Teheran pada 1 Sya’ban 251 H (658 M).
            Pemikiran filsafatnya berkisar tentang masalah akal dan agama (penolakan terhadap kenabian dan wahyu), prinsip lima kenabian dan wahyu yang abadi, dan hubungan jiwa dan materi.

6. Al – Farabi (870 – 950 M)
            Al – Farabi nama lengkapnya adalah Abu Nash Al Farabi lahir pada tahun 258 H / 870 M di Farab, Meninggal pada tahun 339 H / 950 M.
Sejarah mencatatnya sebagai pembangun agung sistem filsafat, dimana ia telah membaktikan diri untuk berfikir dan merenung, menjauh dari kegiatan politik, gangguan dan kerusuhan masyarakat.
            Al – Farabi adalah seorang yang logis baik dalam pemikiran, pernyataan, argumentasi, diskusi, keterangan dan penalarannya. Unsur – unsur penting filsafatnya adalah :
a.       Logika
b.      Kesatuan Filsafat
c.       Teori sepuluh kecerdasan
d.      Teori tentang akal
e.       Teori tentang kenabian
f.       Penafsiran atas Al – Qur’an

7. Ibnu Miskawih (932 – 1020 M)
            Nama lengkapnya adalah Abu Ali Ahmad Ibn Muhammad Ibn Ya’qub Ibn Miskawih. Ia lahir di kota Ray (Iran) pada 320 H (932 M) dan wafat di Asyafan pada 9 Safar 421 H (16 Februari 1030 M). Pemikiran filsafatnya berkisar tentang masalah filsafat akhlak dan filsafat jiwa.
                       
                        8. Ibnu Sina (980 – 1037 M)
Nama lengkapnya adalah Abu Ali Huseyn Ibn Abdullah Ibn Hasan Ibn Ali Ibn Siena. Di dunia barat Ibnu Sina dikenal juga dengan Avicenna, adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia (sekarang sudah menjadi bagian uzbekistan). Ibnu Sina bernama lengkap Abu Ali Al Husayn Bin Abdullah Bin Sina. Meninggal pada bulan Juni 1037 M di Hamadan, Persia (Iran).
Dalam sejarah pemikiran filsafat abad pertengahan, sosok Ibnu Sina dalam banyak hal unik sedang diantara para filosof muslim ia tidak hanya unik tapi juga memperoleh penghargaan yang semakin tinggi hingga masa modern. Ia adalah satu – satunya filosof besar Islam yang telah berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci. Suatu alasan yang telah mendominasi tradisi filsafat muslim selama beberapa abad
Pemikiran filsafatnya berkisar tentang masalah : Fisika dan Metafisika, Filsafat Emanasi, Filsafat jiwa (akal), dan teori kenabian.

            A.2 Filsafat Islam di Dunia Islam Barat
                        1. Ibnu Bajjah (1082 – 1138 M)
Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad Ibn Yahya Ibn
Al Sha’igh Al - Tujibi Al - Andalusi Al – Samqusti Ibn Bajjah. Ibn Bajjah dilahirkan di Saragosa, Andalusia pada tahun 475 H (1082 M).
Pemikiran filsafat berkisar tentang masalah metafisika, teori, pengetahuan, filsafat akhlak, dan tabir al mutawahid (mengatur hidup secara sendiri).

                        2. Ibnu Tufail (1110 – 1185 M)
Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad Ibn Abdul Malik
Ibn Muhammad Ibn Muhammad Ibn Tufail Al Kaisyi. Di barat dikenal dengan nama Abu Bacer. Ia dilahirkan di guadix, 40 mil timur laut Laut Granada pada 506 H (1110 M) dan meninggal di kota Marraqesh, Maroko pada 581 H (1185 M). Pemikiran filsafat berkisar tentang masalah percikan filsafat dan kisah Hay Bin Yaqadhan.

                        3. Ibnu Rusyd 520 H / 1134 M (Teori kebenaran ganda)
Ibnu Rusyd adalah seorang filusuf dari Spanyol. Di barat dia dikenal dengan nama Averroes. Salah satu pemikiran Ibnu Rusyd adalah ia membela para filosof dan pemikiran mereka dan mendudukkan masalah- masalah tersebut pada porsinya dari serangan Al Ghazali . Untuk itu ia menulis sanggahan berjudul Tahafut Al – Tahafut. Dari buku ini Ibnu Rusyd menjelaskan bahwa sebenarnya Al Ghazalilah yang kacau dalam berfikirnya.

  1. Periode Skolastik Kristen
Periode skolastik Kristen dalam sejarah perkembangannya dapat dibagi menjadi tiga, yaitu Masa Skolastik Awal, Masa Skolastik Keemasan, dan Masa Skolastik Terakhir.
B.1. Masa Skolastik Awal (Abad 9 – 12 M)
            Masa ini merupakan kebangkitan pemikiran dari kungkungan gerejawan yang telah membatasi berfilsafat, karena berfilsafat sangat membahayakan bagi agama Kristen khususnya pihak gerejawan. Dan ditonjolkan dalam masa ini adalah hubungan antar agama dengan filsafat karena keduanya tidak dapat dipisahkan, dan dengan keduanya manusia akan memperoleh pengetahuan yang lebih jelas. Tetapi masa ini filsafat masih bertumpu pada alam pikiran dan karya – karya kristiani.
            Masa ini juga berdiri sekolah- sekolah yang menerapkan studi duniawi meliputi tata bahasa, retorika, dialektika, ilmu hitung, ilmu ukur, ilmu perbintangan dan musik. Sekolah yang mula – mula ada di biara Italia Selatan ini akhirnya berpengaruh ke daerah – daerah yang lain.
    
B.2 Masa Skolastik Keemasan (1200 - 1300 M)
            Pada masa ini Skolastik mengalami kejayaan yang berlangsung dari tahun 1200 – 1300 M, disebut juga dengan masa yang berbunga dan bertumbuh kembang, karena muncul banyak universitas dan ordo – ordo (biara – biara baru)  yang menyelenggarakan pendidikan ilmu pengetahuan.
            Ada beberapa faktor yang membuat masa ini menjadi masa keemasan. Pertama, pengaruh dari Aristoteles dan ahli fikir islam sejak abad ke 12 sehingga pada abad ke 13 telah tumbuh ilmu pengetahuan yang luas. Kedua, berdirinya beberapa universitas dengan fakultas yang sangat berpengaruh, yaitu Fakultas Teologia, Fakultas Kedokteran dan Fakultas Sastra. Dan yang ketiga munculnya ordo – ordo yang membawa dorongan kuat untuk memberikan suasana yang semarak pada abad ke 13.
            Pada masa ini juga ada seorang filosof Agustinus yang menolak ajaran Aristoteles karena sudah dicemari oleh ahli fikir Islam, dan hal ini sangat membahayakan ajaran Kristen, maka Abertus Magnus dan Thomas, sengaja  menghilangkan unsur – unsur atau selipan – selipan dari Ibnu Rusyd. Upaya Thomas Aquinas yang berhasil ini sehingga menerbitkan buku yang berjudul Summa Theologie, yang merupakan bukti kemenangan ajaran Aristoteles diselaraskan dengan ajaran Kristen.

B.3 Masa Skolastik Terakhir (1300 – 1450 M)
            Masa ini ditandai denagn kemalasan berfikir filsafat, sehingga menjadi stagnansi pemikiran filsafat Skolastik Kristen, Nicolous Cusanus (1401 -1404) adalah tokoh yang terkenal pada masa ini, dan sebagai tokoh pemikir yang terakhir pada masa Skolastik. Menurut pendapatnya terdapat tiga cara untuk mengenal, yaitu lewat indera,lewat akal dan lewat intuisi. Dengan indera manusia mendapatkan pengetahuan tentang benda – benda yang berjasad (siafatnya tidak sempurna). Dengan akal manusia bisa mendapatkan bentuk yang abstrak yang telah ditangkap oleh indera. Dan yang ketiga intuisi, dalam intuisi manusia akan mendapatkan pengetahuan yang lebih tinggi, karena dengan intuisi manusia dapat mempersatuakan apa yang oleh akal tidak dapat dipersatukan. Karena keterbatasan akal itu sendiri maka dengan intuisilah diharapkan sampai pada kenyataan, yaitu Tuhan. 


























BAB III
PENUTUP
 
Kesimpulan

Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia yang tidak luput dari ilmu pengetahuan yang tumbuh melalui akal pikiran, sehingga tercapai suatu yang dinginkan dan tidak mengandalkan dari keturunannya untuk dapat meraih cita – citanya.

























DAFTAR PUSTAKA


Solomon ,Robert. 1996,  Sejarah Filsafat, New York: Liberty Perss
Abu Bakar ,Aceh. Sejarah Filsafat, Semarang: 1970.
Poejawijatna,1967, Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat, Jakarta: Rhineka Cipta.
Hadiwijono, Harun. 1989, Sari Sejarah Filsafat Barat 1, Yogyakarta: Kanisius.
Hassan, Fuad. 2001, Pengantar Filsafat Barat, Jakarta: Pustaka Jaya.
Bertens, Kees. 1998, Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta: Kanisius.























[1] Hellenisme adalah istilah yang menunjukkan kebudayaan gabungan antara budaya Yunani dan Asia Kecil, Syiria, Mesopotamia, dan Mesir Kuno.
[2] A. Epping O.F.M. et.al .1983. Filsafat Ensie. Bandung Jemmar
Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Sosiologi Online - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger