Latest Games :
Home » » Agama dalam pandangan Tokoh Barat

Agama dalam pandangan Tokoh Barat

Sabtu, 23 Juni 2012 | 0 komentar


BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Masalah asal mula suatu unsur universal, seperti agama, telah menjadi objek perhatian para ahli pikir sejak lama. Masalah mengapa manusia percaya kepada suatu kekuatan yang dianggap lebih tinggi dari dirinya, dan mengapa manusia melakukan berbagai cara untuk mencari hubungan dengan kekuatan-kekuatan itu, menjadi objek studi para ilmuwan sejak dahulu.
Tingkat perkembangan agama dan kepercayaan di suatu masyarakat dipengaruhi oleh tingkat perkembangan peradaban masyarakat tersebut. Agama-agama masyarakat primitif di suatu tempat bersesuaian dengan tingkat kehidupan dan peradaban bangsa itu. Pada bangsa yang masih primitif dan sangat sederhana tingkat ilmu pengetahuan dan teknologinya, agama atau kepercayaan terhadap Tuhan pun sangat sederhana. Namun dalam perkembangan selanjutnya, kemajuan yang dialami oleh agama jauh lebih lambat dibandingkan dengan kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, usaha manusia untuk memperoleh kebenaran hakikat terbesar dari alam ini yang menjadi bidang penghayatan agama jauh lebih sukar dibanding dengan mencari kebenaran pada bagian-bagian lain dari alam semesta yang menjadi bidang penelitian ilmu dan teknologi.
Berbagai macam teori tentang asal mula agama telah dikemukakan oleh para sarjana dari berbagai disiplin ilmu, terutama ilmuwan sosial. Mereka telah mencoba meneliti asal-usul agama atau menganalisis sejak kapan manusia mengenal agama dan kepercayaan terhadap Tuhan. Dengan metode pendekatan yang berbeda, mereka melakukan penelitian terhadap masyarakat yang dasar dan paling rendah peradabannya. Dalam asumsi mereka, masyarakat seperti itu merupakan model dari masyarakat awal dalam sejarah manusia. Oleh karena itulah agama masyarakat yang diteliti, mereka anggap sebagai tipe agama yang paling awal dalam kehidupan manusia.
Dalam paparan di bawah ini akan kita bahas beberapa teori darai para ilmuwan yang telah melakukan penelitian tersebut, yakni Karl Marx dan Emile Durkheim.


B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana teori agama menurut Karl Marx?
2.      Bagaimana teori agama menurut Emile Durkheim?



















BAB II
PEMBAHASAN


A.    Teori Agama Karl Marx

Karl Marx lahir di Trier, Prusia, 5 Mei 1818. Ayahnya seorang pengacara menafkahi keluarganya dengan relatif baik, khas kehidupan kelas menengah. Orang tuanya adalah dari keluarga pendeta Yahudi (rabbi). Tetapi karena alasan bisnis ayahnya menjadi penganut ajaran Luther ketika Karl Marx masih sangat muda. Tahun 1841 Marx menerima gelar doktor filsafat dari Universitas Berlin, universitas yang sangat dipengaruhi oleh Hegel dan guru-guru muda penganut filsafat Hegel, tetapi berpikiran kritis. Gelar doktor Marx didapat dari kajian filsafat yang membosankan, tetapi kajian itu mendahului berbagai gagasan yang muncul kemudian.[1]
Teori-teori fungsional dari Marx berusaha menemukan sumber kewajiban kepada kekuatan sakral yang terletak pada inti agama. Seperti akan kita bahas, Marx menemukannya dalam ketidaksamaan sosial, dan Freud dalam pola bio-sosial keluarga manusia. Marx pada mulanya tidak tertarik dengan agama, dan buku-bukunya hanya berisi acuan-acuan umum saja mengenai agama. Namun justru ialah yang mengemukakan kerangka gagasan, yang kemudian digunakan oleh Engels untuk menganalisis beberapa aspek khusus sejarah agama.
TeoriMarx mengenai agama merupakan bagian dari teori umumyang dikemukakannya mengenai alienasi. Dia berpendapat bahwa manusia dalam kehidupan bersama mereka menciptakan berbagai produk sosial. Produk-produk ini bisa berupa benda-benda material, seperti bahan makanan dan angunan-bangunan, atau produk-produk imaterial, seperti struktur aturan sosial, ilmu pengetahuan atau agama. Selama manusia tidak terpecah-pecah menjadi beberapa kelas yang saling berlawanan, sebagaimana ketika mereka tidak terpecah-pecah selama fase komunisme primitif. Produk-produk sosial ini diakui sebagai sesuatu yang dibentuk oleh manusia, dan karen aitu bisa mereka bentuk kembali. Tetapi segera setelah perpecahan kelas terjadi, bentuk pertama mereka yang merupakan bentuk masyarakat pemilik budak, atau alienasi pun tercipta. Artinya bahwa setiap individu memahami produk-produk masyarakatnya sebagai bagian yang sama sekali berada di luar dirinya dan tidak dapat dikuasainya, dan dia harus tunduk kepadanya. Untuk tunduk baik karena kehilangan hak untuk menguasai benda-benda material yang dia bantu penciptannya, kepada tatanan politik atau perintah-perintah agama, manusia kehilangan kemanusiaan sejatinya dan terlepas hubungannya dengan dunia nyata, karena dia hanya dapat memahami dunia dengan berpegang teguh kepadanya dan mencoba mengendalikan dengannya. Kepercayaan-kepercayaan keagamaan yakni pengakuan atas kebenaran mutlak dan tertinggi dogma-dogma dan aturan tingkah lakunya. Lebih tipikal terhadap kelas tertindas dari pada terhadap para penindas. nya, kondisi mereka yang tidak memiliki hak apa-apa dan karena itu juga tidak memiliki hak untuk mengatur lingkungan hidup mereka, tercermin dalam penyerahan diri mereka kepada agama. Bagi mereka, agama mengesahkan tatanan ekonomik dan politik yang menempatkan mereka dalam posisi tertindas, dan memberikan kompensasi atas penderitaan-penderitaan mereka berupa fantasi-fantasi dalam kehidupan di akhirat kelak.
Berbicara mengenai agama, Marx memberi keterangan terlalu singkat atau terus terang. Agama menurut Marx adalah ilusi semata. Lebih buruk lagi, agama adalah sebuah ilusi dengan konsekuensi amat sangat jahat. Ia adalah contoh ideologi yang paling ekstrem, suatu sistem kepercayaan yang tujuan utamanya adalah untuk sekedar memberikan alasan, sebenarnya memberi izin untuk mempertahankan hal-hal di dalam masyarakat seperti cara yang disukai para penindas.
Marx menegaskan bahwa kita harus memperhatikan persamaan yang mencolok antara aktivitas religius dengan aktivitas sosial ekonomi. Keduanya ditnadai oleh alienasi. Agama mengambil sifat-sifat ideal moral dari kehidupan manusia yang dasar, dan secara tidak wajar memberikannya pada suatu wujud asing dan khayal yang kita sebut Tuhan. Alienasi yang kita lihat dalam agama sebenarnya hanya merupakan ekspresi dari ketidakbahagiaan yang lebih dasar, yang selalu bersifat ekonomi. Oleh karena itu alienasi yang tampak dalam agama harus dilihat sebagai suatu ekspresi, bayangan balik dari alienasi manusia yang riil dan mendasar, yang lebih bersifat ekonomi dan material dari pada spiritual.[2]
Penjelasan tentang agama dari Marx memiliki pengaruh yang besar pada abad kita, sebagian karena ia bukan sekedar teori ilmiah yang lain. Ia terkait dengan suatu filsafat tindakan politik yang hingga akhir-akhir ini dianut hampir sepertiga dunia, tidak hanya meliputi bangsa-bangsa yang besar seperti Uni Soviet dan Cina daratan, namun juga bangsa-bangsa yang lebih kecil. Bagi jumlah tak berbilang orang yang lahir dalam kebudayaan ini, Marxisme dan kritik tanpa ampun kepada agama merupakan satu-satunya filsafat hidup yang pernah mereka ketahui. Tentu adalah sebagian karena kesuksesan politik ini sehingga Marxisme sama-sama memiliki pengaruh yang besar pada kehidupan intelektual modern.
Pandangan Marx tentang agama adalah sulit untuk dicapai. Mungkin hal terbaik yang dapat dilakukan, setidaknya pada permulaan adalah mengesampingkan isu memuji atau menyalahkan dan mencoba untuk sekedar deskriptif. Dari segi itu, setidaknya ada dua unsur dalam teori Marx yang berbeda dari teori yang lain, yang pantas mendapat perhatian kita. 1) Strategi penjelasan fungsional dari Marx yang berakhir pada bentuk reduksionisme yang khas, dan 2) penekanan Marx pada ikatan kuat yang menghubungkan agama pada ekonomi.[3]

B.     Teori Agama Emile Durkheim

Emile Durkheim lahir di Epinal, Perancis, 15 April 1858. Ia keturunan pendeta Yahudi dan ia sendiri belajar untuk menjadi pendeta (rabbi). Tetapi ketika berumur 10 tahun ia menolak menjadi pendeta. Sejak itu perhatiannya terhadap agama lebih bersifat akademis ketimbang teologis (Mestrovic, 1988). Ia bukan hanya kecewa terhadap pendidikan agama, tetapi juga pendidikan umumnya dan banyak memberi perhatian pada masalah kesusastraan dan estetika. Ia juga mendalami metodologi ilmiah dan prinsip moral yang diperlukan untuk menuntun kehidupan sosial. Ia menolak karir tradisional dalam filsafat dan berupaya mendapatkan pendidikan ilmiah yang dapat disumbangkan untuk pedoman moral masyarakat. Meski ia tertarik pada sosiologi ilmiah tetapi waktu itu belum ada bidang studi sosiologi sehingga antara 1882-1887 ia mengajar filsafat di sejumlah sekolah di Paris.[4]
Berbicara mengenai agama, Durkheim mengemukakan pendapatnya melalui teori sentimen kemasyarakatan. Teori ini menyatakan bahwa agama yang permulaan itu muncul karena adanya suatu getaran, suatu emosi yang ditimbulkan dalam jiwa manusia sebagai akibat dari pengaruh rasa kesatuan sebagai sesama warga masyarakat. Teori ini diuraikan dalam buku Durkheim Les Formes Elementaries de Lavia Religieuse diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris The Elementary Forms of The Religious Life (1965). Dalam bukunya itu Durkheim mengemukakan teori baru tentang dasar-dasar agama yang sama sekali berbeda dengan teori-teori yang pernah dikembangkan oleh para ilmuwan sebelumnya.
Teori itu terpusat pada pengertian dasar berikut,
a.       Bahwa untuk pertama kalinya aktivitas religi yang ada pada manusia bukan karena pada alam pikirannya terdapat bayangan-bayangan abstrak tentang jiwa atau roh suatu kekuatan yang menyebabkan hidup dan gerak di dalam alam tetapi karena suatu getaran jiwa, atau emosi keagamaan, yang timbul dalam alam jiwa manusia dahulu, karena pengaruh suatu sentimen kemasyarakatan.
b.      Bahwa sentimen kemasyarakatan dalam batin manusia dahulu berupa suatu kompleksitas perasaan yang mengandung rasa terikat, bakti, cinta, dan perasaan lainnya terhadap masyarakat di mana ia hidup.
c.       Bahwa sentimen kemasyarakatan yang menyebabkan timbulnya emosi keagamaan dan merupakan pangkal dari segala kelakuan keagamaan manusia itu, tidak selalu berkobar-kobar dalam alam batinnya. Apabila tidak dipelihara, maka sentimen kemasyarakatan itu menjadi lemah dan laten, sehingga perlu dikobarkan sentimen kemasyarakatan dengan mengadakan satu kontraksi masyarakat, artinya dengan mengumpulkan seluruh masyarakat dalam pertemuan-pertemuan raksasa.
d.      Bahwa emosi keagamaan yang timbul karena rasa sentimen kemasyarakatan membutuhkan suatu objek tujuan. Sifat yang menyebabkan sesuatu itu menjadi objek dari emosi keagamaan bukan karena sifat luar biasanya, anehnya, megahnya, atau ajaibnya melainkan tekanan anggapan umum masyarakat. Objek itu ada karena terjadinya satu peristiwa secara kebetulan di dalam sejarah kehidupan suatu masyarakat masa lampau menarik perhatian orang banyak di dalam masyarakat tersebut. Objek yang menjadi tujuan emosi keagamaan juga objek yang bersifat keramat. Maka objek lain yang tidak mendapat nilai keagamaan (tirual value) sipandang sebagai objek yang tidak keramat (profane).
e.       Objek keramat sebenarnya merupakan suatu lambang masyarakat. Pada suku-suku bangsa asli Australia, misalnya objek keramat dan pusat tujuan dari sentimen kemasyarakatan, sering berupa binatang dan tumbuh-tumbuhan. Objek keramat seperti itu disebut totem. Totem adalah mengkonkritkan prinsip totem di belakangnya. Dan prinsip totem itu adalah sekelompok di dalam masyarakat berupa clan (suku) atau lainnya.
Pendapat tersebut di atas, yang oertama mengenai emosi keagamaan dan sentimen kemasyarakatan, adalah menurut Durkheim. Pengertian-pengertian dasar yang merupakan inti atau esensi dari religi, sedangkan ketiga pengertian lainnya, kontraksi masyarakat, kesadaran akan objek keramat berlawanan dengan objek tidak keramat, dan totem sebagai lambang masyarakat, bermaksud memelihara kahidupan dari inti kontraksi masyarakat itu.
Objek keramat dan totem akan menjelaskan upacara, kepercayaan, metodologi. Ketiga unsur itu menentukan bentuk lahir dari suatu agama. Perbedaan itu tampak dari upacara-upacara, kepercayaan, dan metodologinya.[5]
Dalam bukunya The Elementary Forms of Religious Life (1965), Durkheim berusaha memahami peranan sosial agama dengan jalan mempelajari bentuk-bentuknya yang paling sederhana atau yang paling elementer. Dalam bukunya itu ia menganalisis ritual-ritual keagamaan totemik Arunta, yakni suatu masyarakat pemburu peramu Australia yang telah ada banyak penegtahuan etnografis mengenai masyarakat itu.
Perspektif umum Durkheim ialah bahwa kehidupan sosial merupakan suatu tingkat realitas yang tidak dapat diintepretasikan dalam hubungan dengan karakteristik-karakteristik individu. Ditegaskannya para sosiolog mempelajari fakta-fatkta sosial, yakni fenomena yang ada terlepas dari individu-individu dan memasukkan pengaruh pengawasa atas mereka. Durkheim percaya bahwa fakta sosial hanya dapat dijelaskan dalam hubungan dengan fakta-fakta sosial lain, dan ia menggunakan perspektif osiologi ini dalam studinya mengenai agama. Agama adalah sesuatu yang terutama sosial, bukan psikologis. Agama muncul karena manusia hidup di dalam masyarakat, dengan demikian mengembangkan kebutuhan-kebutuhan dasar tertentu sebagai akibat dari kehidupan kolektif mereka. agama ada, karena agama dapat memenuhi fungsi-fungsi sosial tertentu yang penting yang tak dapat dipenuhi tanpa agama. Peranan utamanya, menurut Durkheim ialah sebagai integrator kemasyarakatan. Agama mengikat orang-orang menjadi satu dengan mempersatukan mereka sekitar seperangkat kepercayaan, nilai dan ritual bersama. Dengan demikian, agama membantu memelihara masyarakat atau kelompok sebagai suatu komunitas moral.
Durkheim menyimpulkan bahwa komponen ritualistik agamalah yang paling penting karena melalui rituallah kekuatan mengikat komunitas itu disimbolkan. Durkheim sendiri adalah seorang ateis yang berpendapat bahwa konsep-konsep dan ide-ide tentang agama secara empiris adalah palsu. Namun ia menyetujui agama karena sifatnya yang mengintegrasikan masyarakat. Pandangannya mengenai peranan agama di dalam masyarakat membuatnya khawatir ketika dilihatnya, bahwa agama mati perlahan-lahan dalam dunia modern di bawah pengaruh ilmu dan teknologi modern. Analisis Durkheim mengenai agama sangat berpengaruh dalam sosiologi abad XX. Pandangannya bahwa agama memainkan suatu peranan penting sebagai integratot masyarakat mengandung banyak kebenaran. Khususnya dalam masyarakat kumpulan (band) dan kesukuan agama memang memainkan peranan ini, tetapi agama nuga adalah suatu integrator sosial yang penting dalam masyarakat yang lebih kompleks. Sesungguhnya dalam hal ini Durkheim dan Marx jelas memandang bahwa agama memang memainkan suatu peran utama memancing komitmen individu-individu terhadap karakter dasar orde sosial mereka. Inilah yang menjadi sasaran tesisnya candu masyarakat. Namun Marx menekankan apa yang sebagian besar diabaikkan oleh Durkheim, bahwa agama dapat merupakan kekuatan yang memisahkan maupun kekuatan yang mengintegrasikan. Orang hanya perlu melayangkan suatu pandangan sepintas lalu atas masyarakat dan sejarah untuk melihat betapa banyak hal itu demikian. Konflik secara historis di antara kaum Muslim dan Hindu di India yang menjurus terbentuknya Pakistan, konflik berabad-abad di antara kaum Katolik dan Protestan di Irlandia, dan konflik kontemporer yang yang gegap gempita di antara kaum Kristen dan Muslim di Libanon merupakan hanya beberapa peristiwa peranan agama yang secara sosial bersifat memisahkan. Jadi suatu perspektif Durkheim mengenai sifat sosial dari agama mempunyai banyak nilai, tetapi ada sikap berat sebelah terhadapnya yang hanya dapat diimbangi dengan digunakannya suatu analisis yang lebih berorientasi konflik.[6]
Seperti yang telah kita ketahui dari pembahasan di atas, inti dari pandangan Durkheim terletak di dalam klaimnya bahwa agama adalah sesuatu yang sungguh bersifat sosial. Ia menegaskan bahwa meskipun sebagai individu kita semua membuat pilihan dalam diri kita, namun kita melkaukannya di dalam kerangka sosial ynag diberikan pada kita sejak saat lahir. Kita berbicara dengan bahasa yang tidak kita buat, kita memakai instrumen yang tidak kita temukan, kita menyerukan hak yang tidak kita temukan, perbendaharaan pengetahuan dipindahkan pada setiap generasi yang tidak ia kumpulkan sendiri. Disemua kebudayaan agama adalah bagian yang paling berharga dari perbendaharaan sosial. Ia melayani masyarakat dengan menyediakan sejak masa pertumbuhan berupa ide, ritual, sentimen, yang membimbing kehidupan setiap orang yang ada di dalamnya.
Penjelasan fungsional: persoalan ritual membawa kita pada inti teori Durkheim, tidak hanya mengemukakan satu teori yang berbeda tetapi suatu teori yang jenisnya berbeda dari jenis-jenis teori yang ada sebelumnya. Dalam penjelasan agama Durkheim menganggap dirinya mampu pergi ke bawah permukaan sesuatu. Dalam pendekatan intelektualis, ide-ide dan kepercayaan sisi spekulatif dari agama menurut Durkheim adalah kunci untuk menjelaskan kebudayaan yang lain. Hakikat agama yang sebenarnya tidak ditemukan di dalam permukaan tetapi di bawahnya, seperti yang ditunjukkan dengan jelas oleh totemisme Australia, nilai-nilai kunci dari agama terletak di dalam upacara dimana ia menginspirasi dan memperbarui kesetiaan individu kepada kelompok. Ritual-ritual ini kemudian menciptakan hampir sebagai sebuah renungan, kebutuhan akan sesuatu jenis simbolisme yang mengambil bentuk ide tentang jiwa-jiwa leluhur dan dewa-dewa. Apalagi jika suatu masyarakat benar-benar membutuhkan ritus-ritus semacam itu untuk bertahan dan berkembang, maka tak akan pernah ada suatu komunitas tanpa suatu agama atau sesuatu yang serupa untuk mengisi tempatnya. Maka meskipun ide tentang agama dianggap salah atau mustahil oleh beberapa orang, namun perilaku agama masih sangat banyak hidup di masyarakat yang ia dukung. Ide-ide agama dapat dipertanyakan, tapi ritual agama atau sesuatu yang sangat serupa dengannya pastilah bertahan terus. Masyarakat tidak bisa hidup tanpa upacara, karenanya agama bertahan terus.[7]


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Dari penjelasan-penjelasan di atas, penulis dapat menyimpulkan sedikit mengenai teori agama menurut Karl Marx dan Emile Durkheim. Marx menganggap agama sebagai ekspresi penindasan dan rasionalisasi dan pembenaran order sosial yang ada. Marx menilai agama sebagai candu masyarakat, dikemukakannya bahwa agama berlaku atas masyarakat bagaikan obat bius, agama meringankan penderitaan tetapi tidak menghilangkan kondisi-kondisi yang menimbulkan penderitaan itu. Marx melihat agama sebagai suatu kekuatan konservatif yang inheren karena agama meredam kemungkinan orang  memperoleh suatu kesadaran revolusioner dimana dunia itu sendiri dapat diubah.
Sedangkan Durkheim inti dari pandangan Durkheim terletak di dalam klaimnya bahwa agama adalah sesuatu yang sungguh bersifat sosial. Ia menegaskan bahwa meskipun sebagai individu kita semua membuat pilihan dalam diri kita, namun kita melakukannya di dalam kerangka sosial ynag diberikan pada kita sejak saat lahir. Kita berbicara dengan bahasa yang tidak kita buat, kita memakai instrumen yang tidak kita temukan, kita menyerukan hak yang tidak kita temukan, perbendaharaan pengetahuan dipindahkan pada setiap generasi yang tidak ia kumpulkan sendiri. Disemua kebudayaan agama adalah bagian yang paling berharga dari perbendaharaan sosial. Ia melayani masyarakat dengan menyediakan sejak masa pertumbuhan berupa ide, ritual, sentimen, yang membimbing kehidupan setiap orang yang ada di dalamnya.







DAFTAR PUSTAKA


Daniel, Pals L. 2004. Seven Theories of Religion, Jakarta: Qalam.
Robertson, Roland. 1988, Agamadalam Analisa dan Interpretasi Sosiologis, Jakarta: Rajawali.
Ishomuddin. 2002. Sosiologi Agama, Jakarta: Ghalia Indonesia.
Kahmad, Dadang. 2006. Sosiologi Agama, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Schraft, Betty R. 2004. Sosiologi Agama, Jakarta: Kencana.


[1] Ritzer george, teori sosiologi modern,(jakarta:kencana.2011)hal.32

[2]L. Pals Daniel, seven theories of relegion,(jakarta:qalam,2004) hal.235

[3]Ibid hal. 241
[4]opsid hal 24
[5]Kahmad dadang, sosiologi agama,(bandung:remaja rosdakarya,2006) hal.29

[6]Ishomudin, pengantar sosioligi agama,(jakarta:ghalia indonesia, 2002) hal.38
[7]Ibid hal. 129.
Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Sosiologi Online - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger